Berita Terkait :
Sumber : http://www.lampungpost.com/inspirasi/12901-kegaduhan-made-gaduh-mengejar-prestasi.html
BANJIT—“Lebih enjoy dengan ilmu pasti,” begitu kata Made Gaduh (17), siswa kelas XI-AV (audio video), SMKN 1 Banjit, Way Kanan. Ia adalah peraih peringkat dua Olimpiade Sains Terapan (OST) tingkat provinsi yang bercita-cita menjadi guru Fisika ini.
Proses dana perjalanan pengalaman memang selalu membuka kesempatan bagi yang ingin maju. Soal ilmu pasti, Made mengaku sebelumnya sama sekali tidak tertarik. “Waktu SMP saya enggak seberapa suka pelajaran IPA. Pening. Tapi setelah masuk SMK ini, saya jadi suka karena guru pelajarannya bisa memotivasi siswa. Bahkan cara mengajarnya juga lebih cepat ditangkap,” kata dia.
Pada OST yang digelar di gedung BPKB, Bandar Lampung, 10 Oktober lalu, anak kedua dari pasangan Wayan Mangku Yasa dan Kadek Suastini ini masuk tiga besar dari 75 peserta dari sekolah se-Lampung. Ia menjadi nomor dua pada bidang Fisika terapan. “Sebetulnya belum puas, tetapi saya syukuri saja. Saya akan belajar lebih giat lagi,” ujarnya.
Peraih ranking pertama di kelasnya itu mengaku mengurangi waktu bermainnya. Bangun subuh sekitar pukul 04.00 merupakan jadwal yang harus dilakukannya. Pada pukul 04.00 sampai 06.00, digunakan sebagai waktu belajar. Sedangkan pada malam hari, Made menjadwalkan untuk belajar mulai pukul 19.00 sampai 20.30, baru kemudian istirahat.
“Pokoknya dalam sehari waktu belajar saya harus 3,5 jam. Pagi buta dan malam. Kalau libur baru saya gunakan untuk main sama kawan-kawan. Karena ini sudah rutin saya lakukan, jadinya ya biasa,” kata peraih juara II lomba pelajaran agama Hindu se-Lampung beberapa waktu lalu.
Prestasinya yang terus meningkat tidak lepas dari kegigihannya belajar, dan terus mencoba sesuatu yang baru pada pelajaran Fisika. “Saya belajar dari soal-soal yang ada di sekolah. Saya juga sering minta bimbingan dari kakak kelas. Ternyata ilmu pasti terutama Fisika itu malah sebuah pelajaran yang enjoy,” kata dia.
Hanya dalam waktu empat hari setelah seleksi tingkat Kabupaten Way Kanan, yang diselenggarakan 6 Oktober 2011, ia berhasil meraih prestasi yang gemilang. Pada seleksi tingkat kabupaten, siswa asuhan Febrian Vilia, guru pelajaran Fisika, meraih peringkat pertama. Ia kemudian dipercaya Dinas Pendidikan setempat untuk mewakili Way Kanan, mengikuti lomba OST tingkat provinsi, bersama empat siswa lain dari sekolah yang berbeda.
Selain Fisika, Made juga berprestasi pada pelajaran Bahasa Inggris. “Kalau SD dan SMP dulu rata-rata saya hanya ranking II, dan beberapa kali ranking III. Setelah masuk SMK ini, kelas satu itu saya juara satu terus,” ujarnya.
Made Gaduh tetap meluangkan tenaganya saat pulang sekolah untuk membantu kedua orang tuanya bekerja di ladang, dan mengambil rumput untuk dua ekor sapi peliharaan orang tuanya. “Pulang sekolah ya bantu orang tua di ladang, terus ngambil rumput. Karena orang tua kan petani dan orang enggak punya, jadi saya harus bantu-bantu sebisa saya. Lagipula jarak rumah sama sekolah juga dekat, cuma satu kilometer,” kata tamatan SMPN 2 Banjit.
Siswa yang bercita-cita dapat melanjutkan kuliah di Universitas Lampung (Unila) itu, tahun depan menargetkan meraih peringkat satu pada OST. Made akan menambah jam belajarnya di rumah dan mengikuti bimbingan khusus di sekolahnya. “Jumat dan Sabtu, ada bimbingan yang memang untuk menggembleng siswa dalam mata pelajaran Fisika. Bukan berarti mengesampingkan pelajaran yang lain, tapi saya ingin tahun depan ini bisa peringkat satu dalam OST itu. Saya ingin membuat kebanggaan baik sekolah daerah dan orang tua,” kata dia.
Didampingi kepala sekolahnya, I Gede Budi Hartana, ia berambisi semester ini tetap dapat mempertahankan ranking-nya. “Mudah-mudahan tidak turunlah ranking saya. Kalau saya terus dapat beasiswa akan meringankan beban orang tua,” kata Made Gaduh.
Sementara itu, I Gede Budi Hartana mengungkapkan untuk mendorong prestasi siswa, sekolah tersebut perlahan dilengkapi fasilitasnya. “Saya berharap bukan hanya Made Gaduh saja yang bisa berprestasi di sekolah ini, semua siswa saya harus bisa meraih prestasi, dalam bidang apa pun. Makanya saya bertekad untuk bisa melengkapi fasilitas yang ada di sekolah,” kata dia.
Saat ini sekolah yang sudah membangun website sendiri itu akan memberikan dukungan kepada Made Galuh agar terus berprestasi dan tahun depan mendapatkan peringkat pertama pada OST. “Kami akan lakukan bimbingan khusus. Prestasi siswa harus dapat kami dorong. Akan ada pendampingan terhadap siswa prestasi. Dari sekolah akan memberikan reward untuk Made,” kata Budi.
Menurut dia, prestasi anak tidak tergantung pada kondisi orang tua. “Anak petani bisa juga berprestasi. Jadi tidak tergantung dari kondisi orang tua, belum tentu yang kedua orang tuanya guru, misalnya, itu anaknya berprestasi bagus. Inilah salah satu dukungan yang selalu saya berikan ke siswa. Agar mereka mau memacu prestasinya,” kata dia.
SMKN 1 Banjit, yang saat ini memiliki empat kompetensi keahlian; teknik kendaraan ringan (otomotif), akuntansi, teknik komputer jaringan (TKJ), teknik audio video (elektro), masih banyak kekurangan ruang belajar. Jumlah siswa yang ada saat ini sudah mencapai 590, menjadi 20 rombongan belajar. Baru 13 ruang kelas yang ada. “Masih banyak kekurangan ruang kelas. Kalau masalah laboratorium semua jurusan sudah ada,” ujar dia.
Guna memberikan pengetahuan yang lebih luas dan mempermudah dalam membuka jaringan internet, sekolah tersebut juga telah memasang internet sekolah berupa hotspot free 24 jam. “Ini untuk mempermudah jaringan, dengan internet tentunya akan banyak bermanfaat. Jaringan website kami di www.smkn1banjit.com juga sudah bisa diakses secara luas,” kata Budi. (WARSENO/M-1)
Info Berita :
Sumber : http://www.lampungpost.com/inspirasi/12901-kegaduhan-made-gaduh-mengejar-prestasi.html